Saliha

Menyentuh Mushaf Al-Quran Tanpa Wudu, Apakah Diperbolehkan?

Nov 26, 2018
administrator

Mushaf merupakan lembaran-lembaran berjilid atau kitab, sementara Alquran yaitu firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril.

 

 

Istilah mushaf memang jarang terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Barangkali Bunda lebih akrab dengan Al-Quran untuk menyebut sebuah kitab yang berisi kalam Allah.

Disimpulkan dari muslimah.co, perkataan Al-Quran dan mushaf sebenarnya beda tipis. Umumnya, orang-orang menganggap Alquran adalah mushaf. Namun, dalam mendefinisikan Alquran, ulama berbeda pendapat. Pandangan yang paling disepakati para ulama dan pakar ushul yaitu definisi dalam kitab At- Tibyaan yang ditulis oleh Al-Shabuni.

Dalam kitab ini disebutkan bahwa Al-Quran merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril yang tertulis dalam mushaf-mushaf, sampai kepada umat melalui mutawatir, membacanya dinilai ibadah, dan urutannya dimulai dari surah Al-Fatihah hingga An-Nas. Sementara mushaf adalah lembaran-lembaran berjilid yang berisi himpunan ayat-ayat Al-Quran secara utuh dan berurutan.

Kesimpulannya, Al-Quran tidak berwujud material, sementara mushaf berwujud material. Jadi, yang selama ini Bunda kenal sebagai Al-Quran adalah mushaf yang menjadi media bacanya.

 

Baca Juga : Anak Suka Berbohong? Beritahu Akibatnya Lewat Dongeng Anak Islami

 

Adab Terhadap Mushaf Alquran

Para ulama dari mazhab Syafii berpendapat bahwa ayat Al-Quran di dalam mushaf lebih dominan dibandingkan terjemah atau tafsir di dalamnya, maka menyentuhnya tanpa wudu adalah haram. Sebaliknya, jika tafsir dan terjemahan jumlahnya berimbang atau lebih banyak, diperbolehkan memegang tanpa wudu. Namun membaca dalam keadaan suci atau memiliki wudu lebih diutamakan.

Berdasarkan hadis riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar yang maknanya, tidak boleh membaca Al-Quran bagi yang sedang junub dan wanita haid. Para ulama menafsirkan bahwa mereka yang berhadas besar dan wanita haid tidak boleh membaca Al-Quran. Akan tetapi boleh mengingat dan mengulang Al-Quran dalam hati dan ingatan tanpa dilafalkan dengan lisan, serta boleh melihat tanpa menyentuhnya, jika diniatkan sebagai zikir dan doa. Pandangan di atas, dikutip dari konsultasifiqih.com.

Dikutip dari sumber yang sama, memegang mushaf  harus dalam kondisi suci dari hadas besar dan kecil seperti yang dimuat dalam kitab-kitab mazhab Syafii. Namun, ada pengecualian dalam 3 hal yaitu:

  • Boleh membolak-balikkan dengan pulpen, penggaris, atau pembatas buku, tanpa menyentuhnya.
  • Jika tafsir dan terjemahannya lebih banyak daripada tulisan Al-Quran, maka mushaf tersebut disebut sebagai kitab tafsir, bukan Al-Quran.
  • Dibolehkan membawa mushaf dalam satu karung (tas) bersama barang-barang yang lain.

Dengan demikian, mushaf Al-Quran dapat dipahami sebagai lembaran berjilid atau kitab yang memuat Al-Quran di dalamnya. Berdasarkan ijma' ulama, tidak diperbolehkan menyentuh dan membawa Al-Quran jika berhadas besar dan junub. Demikian juga membacanya harus bebas dari hadas besar dan hadas kecil.

 

#ilovemyalquran


Share Artikel
Latest Post
Promo