Fakta Unik

TAFAKUR LEWAT BATU

Apr 28, 2020
administrator

Satu minggu sebelum keberangkatan saya ke tanah suci (mudah-mudahan ini tidak dalam rangka riya), saya diundang oleh seniman terkemuka tanah air, Pak Sunaryo, yang lebih dikenal dengan ARTSPACE-nya, yaitu Selasar Sunaryo. Beliau meminta saya menulis tentang karyanya yang diberi nama WOT BATU.

WOT BATU merupakan taman batu di atas sebidang tanah seluas dua ribu meter persegi. Taman itu memiliki konsep yang multidimensi; pergulatan batin tentang ruang dan waktu lewat konfigurasi bebatuan.

Menurut konsep beliau, batu adalah saksi dari perjalanan hidup manusia di bumi dari mulai terjadinya ruang dan waktu. Manusia purba pada masa prasejarah bisa dilihat dari peninggalan megalitikum dalam bentuk perkakas maupun senjata untuk bertahan hidup. Atau, memuja Sang Penguasa Semesta dalam bentuk batu sebagai simbol.

Begitulah kira-kira saya harus menuliskan tentang WOT BATU, tapi dalam durasi panjang. Lalu, apa hubungannya dengan perjalanan saya ke tanah suci?

Bagi saya, salah satu perjalanan ke tanah suci yang paling mengesankan ketika kami berangkat dari Kota Makkah menuju Kota Madinah. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih lima jam dengan menggunakan bus melewati jalan tol yang sangat mulus. Waktu tempuh mungkin kurang lebih hampir sama dengan perjalanan Bandung-Pangandaran.

Sepanjang perjalanan, saya tidak bisa tidur dan tidak mungkin tidur karena melihat pemandangan yang begitu menakjubkan sekaligus mengerikan. Pegunungan yang berlapis-lapis, jurang, bukit terjal, dan ngarai, semuanya hanya bebatuan. Tidak ada pohon, tidak ada rerumputan hijau, dan saya tidak melihat padang savana, bahkan tidak melihat padang pasir yang selama ini ada dalam imajinasi saya tentang Saudi Arabia.

Sepanjang mata memandang ke kanan, kiri, dan depan hanya batu dalam wujud bukit dan gunung, bahkan ada dataran mahaluas yang di atasnya hanya bebatuan bak dimuntahkan dari langit. Seperti taman batu yang disusun langsung lewat tangan Tuhan. Tapi di sana, saya bisa melihat kambing gunung, unta, dan yang luar biasa bisa; melihat monyet! Bagaimana meraka bisa makan di tengah taman batu dan kepungan gunung serta bukit tandus? Bagaimana makhluk-makhluk itu menaklukkan suhu yang ekstrem, baik musim dingin maupun panas. Kita bisa mencari jawaban lewat ilmu pengetahuan, tapi jawaban yang paling pantas dalam perjalanan spiritual seperti itu tiada lain adalah kekuasaan Tuhan, Allah Swt.

Lalu, saya coba lemparkan imajinasi ke masa Rasulullah Saw. berhijrah. Dengan visi yang besar demi keyakinan, yaitu Islam, beliau harus menaklukkan alam liar yang begitu ganas. Malam yang dingin dan siang yang terik harus ditempuh dengan berjalan kaki atau menaiki unta yang kecepatannya kurang lebih sama dengan berjalan kaki. Bukit yang terjal dan gunung yang berlapis-lapis, tak henti-hentinya saya membayangkan bagaimana Nabi kita memperjuangkan Islam hingga sampai pada kita umatnya sekarang ini. Perjuangan yang tidak terbayangkan, perjalanan yang begitu menantang dengan rasa waswas dari kejaran kaum kafir Quraisy saat itu.

 

Lewat bebatuan itu, saya mencoba bertafakur akan perjuangan seorang manusia yang sangat mulia. Begitupun dengan batu Hajar Aswad, kita bisa menafakuri tentang perjuangan bapak para nabi, yaitu Ibrahim a.s. bersama putranya, Isma‘il yang saleh.

Batu Hajar Aswad juga merupakan gambaran sifat adil dari Rasululullah Saw. saat dikisahkan para petinggi kaum Quraisy merasa berhak meletakkan batu Hajar Aswad ketika perbaikan Ka‘bah. Salah satu gagasan beliau adalah meletakkan batu tersebut di atas serbannya, lalu semua petinggi itu diminta memegangnya di setiap ujung kain serban. Subhanallah!

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi besar kita Muhammad Saw., keluarganya, para sahabatnya, pengikutnya, dan kita semua. Aamiin.

 

Wallaahu a’lam bish-shawaab

 

Iwan Yuswandi/Manager Redaksi Pelangi Mizan


Share Artikel
tafakur lewat batu
Latest Post
Free Download